Di masa seperti sekarang, banyak orang menunggu kehilangan sebelum benar-benar belajar menghargai. Entah itu nikmat dari Allah سبحانه وتعالى, ataupun kehadiran orang-orang yang begitu berharga dalam hidup kita.
Terkadang, kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah ia tidak lagi berada di sisi kita. Lebih banyak orang terharu dan berdoa di rumah sakit daripada di masjid. Lebih banyak bunga diletakkan di atas pusara daripada menghiasi taman. Bukan karena doa dan bunga itu tidak berharga, tetapi karena manusia sering kali baru menyadari nilai sesuatu setelah kehilangannya.
Begitulah tabiat manusia.
Saat kita menyadari hal ini, seharusnya kita kembali bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menghargai nikmat yang selama ini Allah berikan?
Betapa banyak manusia yang hidup tanpa mengenal tauhid. Betapa banyak yang belum merasakan manisnya bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى. Maka, ketika Allah memilih kita menjadi seorang Muslim, marilah kita berusaha menghargai dan menjaga nikmat besar ini.
Jangan sampai kita baru mengenal nilai iman ketika iman itu mulai melemah.
Jangan sampai kita baru menghargai kesehatan ketika tubuh telah terbaring sakit.
Jangan sampai kita baru menyadari berharganya orang tua ketika mereka telah tiada.
Jangan sampai kita baru merasakan mahalnya waktu ketika kesempatan telah berlalu dan tidak mungkin kembali.
Sebab, terkadang manusia baru mampu menghargai sebuah nikmat setelah nikmat itu pergi. Karena itu, kita tidak perlu menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur.
Selama kesehatan masih kita miliki, manfaatkanlah untuk beribadah dan melakukan kebaikan.
Selama kedua orang tua masih hidup, muliakanlah mereka. Jangan menunggu mereka tiada baru kita menyadari betapa besar jasa mereka.
Selama kesempatan masih terbuka, jangan terlalu banyak menunda kebaikan.
Selama waktu masih diberikan, jangan biarkan ia berlalu tanpa makna.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الكَيِّسُ مَن دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
Artinya:
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. at-Tirmidzi)
Kecerdasan seorang mukmin bukan hanya tentang seberapa banyak yang ia ketahui, tetapi juga tentang kesadarannya dalam memanfaatkan waktu dan kesempatan sebelum keduanya berlalu.
Al-Hasan al-Bashri رحمه الله pernah berkata:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
Artinya:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, berkurang pula sebagian dari dirimu.”
Betapa dalam nasihat tersebut.
Hari ini yang kita miliki tidak akan pernah kembali menjadi hari esok. Waktu yang telah berlalu tidak dapat dibeli kembali dengan harta sebanyak apa pun.
Maka jangan menunda taubat.
Jangan menunda berbuat baik.
Jangan menunda meminta maaf.
Jangan menunda memperbaiki hubungan.
Jangan menunggu kehilangan untuk kemudian berkata, “Seandainya dahulu aku lebih menghargainya.”
Sebab penyesalan terbesar sering kali bukan karena kita pernah melakukan sesuatu, tetapi karena kita memiliki kesempatan untuk melakukan kebaikan lalu memilih menundanya.
Maka, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing:
Sudahkah kita menghargai nikmat iman sebelum ia dicabut?
Sudahkah kita menghargai waktu sebelum ia habis?
Sudahkah kita menghargai kesehatan sebelum sakit datang?
Sudahkah kita menghargai orang-orang yang selama ini mencintai kita sebelum mereka dipanggil oleh Allah?
Sudahkah kita menghargai keluarga, sahabat, dan saudara sebelum tiba saatnya perpisahan?
Jangan sampai penyesalan menjadi kalimat yang paling sering kita ucapkan di kemudian hari:
“Seandainya dahulu aku berbuat baik.”
Agar penyesalan itu tidak datang, marilah kita mulai menghargai apa yang masih Allah titipkan kepada kita.
Mari kita memperbanyak syukur atas setiap nikmat yang diberikan.
Mari kita memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Mari kita memuliakan kedua orang tua.
Mari kita menjaga kesehatan dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.
Mari kita memperbanyak ibadah, zikir, dan amal saleh.
Sebab kita tidak pernah tahu, nikmat mana yang hari ini masih kita anggap biasa, tetapi ternyata esok menjadi sesuatu yang paling kita rindukan.
Semoga ketika ajal menjemput, kita berada dalam keadaan yang diridhai Allah سبحانه وتعالى.
Dan semoga ketika saat itu tiba, kita tidak menjadi orang yang menyesal karena dahulu terlalu sibuk mencari sesuatu yang jauh, sementara terlalu sedikit menghargai nikmat yang sebenarnya sudah begitu dekat.
Hargailah sebelum tiada.
Karena sering kali, sesuatu baru terasa begitu berharga setelah ia tidak lagi bersama kita.
(Abdul Hafizh / Andi Muh. Nur Atma Amir, M.E.)
