Kemerdekaan Hakiki


Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali mengenang sebuah peristiwa besar dalam sejarah: hari ketika kemerdekaan diproklamasikan. Hari itu bukan sekadar tanggal merah dalam kalender. Ia adalah momentum untuk mengingat kembali perjuangan panjang para pendahulu bangsa dalam membebaskan negeri ini dari penjajahan.

Menariknya, peringatan kemerdekaan hampir selalu menghadirkan kegembiraan di berbagai lapisan masyarakat. Anak-anak, orang tua, pejabat, hingga masyarakat biasa turut merayakannya. Berbagai perlombaan digelar, bendera dikibarkan, dan suasana kebersamaan terasa di mana-mana.

Namun, di tengah semarak perayaan itu, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan:

Benarkah kita telah merdeka?

Secara lahiriah, tentu Indonesia telah merdeka. Tidak ada lagi negara penjajah yang secara resmi menguasai negeri ini. Kita bebas menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, apakah kemerdekaan hanya sebatas terbebas dari penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa yang lain?

Islam mengajarkan kepada kita bahwa manusia memiliki bentuk penjajahan yang jauh lebih berbahaya daripada penjajahan secara fisik, yaitu ketika seorang hamba diperbudak oleh dunia, hawa nafsu, harta, jabatan, popularitas, atau berbagai keinginan yang menjauhkannya dari Allah سبحانه وتعالى.

Ketika azan berkumandang, misalnya, kita diajak untuk meninggalkan sejenak berbagai kesibukan dunia dan memenuhi panggilan Allah. Tetapi tidak jarang hati kita justru masih sibuk memikirkan pekerjaan, urusan bisnis, jabatan, atau berbagai persoalan duniawi.

Lalu, jika demikian, siapa sebenarnya yang mengendalikan hidup kita?

Apakah kita benar-benar merdeka, atau justru masih menjadi hamba dari sesuatu selain Allah?

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

...قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ

Terjemahnya:
“Katakanlah: Wahai Allah, Pemilik kerajaan. Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa yang Engkau kehendaki...”
(QS. Ali ‘Imran: 26)

Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh kekuasaan pada hakikatnya berada di tangan Allah. Dunia, jabatan, harta, kedudukan, bahkan kekuatan manusia semuanya bersifat sementara.

Karena itu, ukuran kemerdekaan seorang hamba tidak semestinya hanya dilihat dari seberapa banyak yang dapat ia miliki atau seberapa tinggi kedudukan yang dapat ia capai. Kemerdekaan yang lebih hakiki adalah ketika hati tidak lagi tunduk kepada selain Allah.

Seorang hamba yang benar-benar merdeka adalah orang yang mampu mengatakan “tidak” kepada hawa nafsunya ketika hawa nafsu mengajaknya kepada kemaksiatan. Ia mampu meninggalkan sesuatu yang haram meskipun sangat menginginkannya. Ia mampu menolak harta yang tidak halal meskipun kesempatan terbuka di hadapannya. Ia mampu melepaskan popularitas ketika popularitas itu mengancam keikhlasannya.

Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Sebaliknya, seseorang mungkin hidup dalam sebuah negeri yang merdeka, memiliki pekerjaan yang baik, harta yang cukup, bahkan kedudukan yang tinggi, tetapi jika hidupnya sepenuhnya dikendalikan oleh dunia, maka pada hakikatnya ia belum merasakan kemerdekaan.

Ia masih diperbudak oleh apa yang dikejarnya.

Dalam Islam, kemuliaan seorang manusia justru terletak pada penghambaan yang benar kepada Allah. Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan kepada kita sebuah identitas yang sangat mulia: عبد الله — hamba Allah.

Menjadi hamba Allah bukanlah kehinaan. Justru itulah puncak kemuliaan manusia. Sebab ketika seseorang benar-benar menjadi hamba Allah, ia tidak perlu merendahkan dirinya di hadapan makhluk demi memperoleh dunia. Ia tidak menggantungkan kemuliaannya kepada pujian manusia. Ia tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai ukuran harga dirinya.

Ia mengetahui bahwa dunia berada di tangan Allah dan akhirat adalah tujuan akhirnya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Terjemahnya:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

(QS. At-Talaq: 2–3)

Ayat ini memberikan sebuah prinsip penting: jalan keluar tidak selalu lahir dari kemampuan manusia semata. Ada pertolongan Allah yang datang melalui ketakwaan, ketaatan, dan tawakal.

Maka, momentum kemerdekaan semestinya tidak hanya mengajak kita mengenang perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan bangsa. Ia juga seharusnya menjadi momentum untuk memeriksa keadaan diri.

Sudahkah kita benar-benar merdeka?

Sudahkah hati kita merdeka dari kesombongan?

Sudahkah diri kita merdeka dari belenggu hawa nafsu?

Sudahkah kita merdeka dari ketergantungan kepada harta, jabatan, dan pujian manusia?

Dan yang paling penting: sudahkah kita menjadikan Allah satu-satunya Dzat yang menjadi tujuan penghambaan kita?

Sebab boleh jadi seseorang telah bebas dari penjajahan manusia, tetapi masih terjajah oleh dunia.

Sebaliknya, seorang hamba yang hatinya tunduk sepenuhnya kepada Allah dapat tetap memiliki ketenangan meskipun dunia tidak selalu berada di tangannya.

Kemerdekaan yang paling tinggi bukanlah ketika manusia bebas melakukan apa saja yang ia inginkan. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia mampu membebaskan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkannya dari Allah.

Maka, pada momentum kemerdekaan ini, mari kita tidak hanya mengibarkan bendera di luar diri kita, tetapi juga berusaha mengibarkan tauhid di dalam hati kita.

Mari kita bebaskan diri dari penghambaan kepada dunia, agar benar-benar menjadi hamba Allah.

Sebab seorang hamba yang hanya tunduk kepada Allah adalah manusia yang paling merdeka.

.اللهم اجعلنا من عبادك الصالحين، وحرر قلوبنا من التعلق بغيرك

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh dan bebaskan hati kami dari ketergantungan kepada selain-Mu.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

(Abdillah Al-Faruq / Andi Muh. Nur Atma Amir, M.E.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *