Khotbah Jum'at, 30 Oktober 2026
Khotbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الَّذِي أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ، وَأَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَانَا عَنِ الظُّلْمِ وَالْعُدْوَانِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Pernahkah kita melihat dua saudara yang dahulu akrab, tetapi kini tidak saling menyapa karena warisan? Atau tetangga yang bermusuhan karena batas tanah? Bahkan, persahabatan dapat rusak akibat perbedaan pilihan politik atau organisasi. Di media sosial, perbedaan pendapat yang semula biasa berubah menjadi saling menghina.
Coba bayangkan seorang ibu yang berharap anak-anaknya tetap rukun setelah ia tiada. Ia tidak meminta mereka selalu sepakat. Ia hanya ingin, ketika ada persoalan, mereka mau duduk bersama, saling mendengar, dan tidak saling menyakiti. Namun, harapan sederhana itu kadang runtuh karena masing-masing lebih sibuk mempertahankan harga diri daripada mencari kebenaran.
Bayangkan ketika hari raya tiba. Seorang ibu menyiapkan hidangan dan berharap kedua anaknya duduk bersama seperti dahulu. Tetapi yang datang hanya satu. Yang lain memilih tidak hadir, bukan karena jauh, melainkan karena pertengkaran yang belum selesai. Di rumah itu tidak terdengar teriakan. Hanya ada kursi yang kosong dan seorang ibu yang menahan kesedihannya.
Kadang, yang kita sebut mempertahankan harga diri ternyata sedang melukai hati orang yang paling menyayangi kita.
Kita pandai menyerukan persatuan. Namun, mengapa terkadang begitu sulit memperlakukan orang lain sebagai saudara?
Dua hari lalu, 28 Oktober, kita memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda. Semangat para pemuda pada 1928 mengingatkan kita bahwa perbedaan daerah dan suku tidak harus menghalangi kebersamaan. Tema tahun ini pun menekankan patriotisme, kegigihan, dan empati. Tetapi persatuan tidak boleh berhenti pada upacara atau slogan; ia harus tampak dalam kehidupan keluarga, masjid, tempat kerja, dan masyarakat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ḥujurāt ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Ayat ini tidak menjanjikan bahwa orang beriman tak akan berselisih. Justru Allah memerintahkan kita mendamaikan mereka. Namun, perdamaian bukan berarti menutupi kezaliman. Jika hak seseorang diambil, harus diupayakan pengembaliannya. Jika ada kesalahan, harus diperbaiki. Surah Al-Ḥujurāt ayat 9 juga menegaskan pentingnya penyelesaian yang adil.
Di dalam masjid, orang kaya dan miskin berdiri dalam satu saf. Pejabat dan rakyat biasa bersujud kepada Allah yang sama. Tetapi selepas salat, apakah kita masih menghormati orang yang tak punya jabatan dan tetap berbuat baik kepada mereka yang berbeda pandangan?
Barangkali ada di antara kita yang setiap Jumat berdiri dalam saf yang sama dengan seseorang yang sudah lama tidak kita sapa. Kita sama-sama mengaminkan doa, tetapi selepas salam masih enggan menyapa. Mungkin persoalannya belum selesai; mungkin ada hak yang harus dibereskan. Namun, mengapa kita tidak mulai membuka pintu pembicaraan yang jujur dan adil? Terkadang, langkah pertama menuju perbaikan sesederhana berkata: “Mari kita bicarakan baik-baik.”
Allah berfirman dalam Surah Al-Ḥujurāt ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Allah menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling merendahkan. Persaudaraan iman mempunyai ikatan khusus. Namun, menghormati martabat manusia dan berlaku adil juga menjadi kewajiban terhadap orang yang berbeda suku, golongan, maupun keyakinan.
Persatuan tidak mengharuskan kita selalu sepakat. Kritik dan perbedaan pendapat dibenarkan, tetapi fitnah dan kezaliman tidak. Allah berfirman dalam Surah Al-Mā'idah ayat 8:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
Mampukah kita mengakui kebenaran dari orang yang tidak kita sukai? Mampukah kita menegur kesalahan kelompok sendiri? Keadilan justru diuji ketika kepentingan kita dipertaruhkan.
Ma'asyiral Muslimin, rahimakumullah.
Kepada para pemimpin, persatuan membutuhkan pelayanan yang adil, bukan pidato semata. Jangan memudahkan yang dekat dengan kekuasaan, tetapi mempersulit masyarakat lemah.
Kepada ulama dan penceramah, termasuk diri saya, sampaikan kebenaran dengan ilmu; jangan jadikan mimbar untuk menumbuhkan permusuhan. Jadilah bagian dari penyelesaian.
Kepada pengusaha dan orang berada, penuhilah hak pekerja dan jauhi kecurangan. Kekayaan semestinya memperluas manfaat, bukan menumbuhkan kesombongan.
Kepada pemuda, gunakan teknologi untuk belajar dan berkarya, bukan menyebar fitnah atau mempermalukan orang yang berbeda pandangan.
Kepada orang tua dan masyarakat, jangan wariskan kebencian kepada anak-anak. Perbedaan pilihan tidak boleh merusak hubungan keluarga; kesulitan tetangga jangan diabaikan hanya karena ia bukan bagian kelompok kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” (HR. al-Bukhārī, no. 481)
Beliau juga mengumpamakan kasih sayang orang-orang beriman seperti satu tubuh: ketika satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan. (HR. Muslim, no. 2586a)
Maka, persaudaraan bukan hanya terasa ketika kita berkumpul. Ia diuji ketika saudara sakit, tetangga kehilangan pekerjaan, atau seseorang diperlakukan tidak adil. Bisa jadi tetangga yang berbeda pilihan dengan kita justru sedang membutuhkan beras, pekerjaan, atau bantuan untuk berobat. Apakah perbedaan itu akan membuat kita berpaling?
Bayangkan seorang tetangga yang selama ini berbeda pilihan dengan kita datang mengetuk pintu pada malam hari. Ia bukan datang membawa perdebatan. Anaknya sedang sakit dan ia membutuhkan bantuan untuk pergi berobat. Pada saat seperti itu, apakah kita masih ingin bertanya dahulu ia berada di pihak siapa? Ataukah kita segera menolong karena ada manusia yang sedang membutuhkan? Di hadapan orang yang sedang kesusahan, kepedulian tidak boleh menunggu kesamaan pandangan.
Jangan sampai kita berseru “satu bangsa”, tetapi enggan menolong manusia yang ada di depan mata.
Semoga Allah melembutkan hati kita, memperbaiki hubungan kita, dan menuntun kita kepada keadilan.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِآيَاتِهِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khotbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ.
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Persatuan tidak harus dimulai dari langkah yang besar. Sepulang dari masjid ini, marilah kita lakukan tiga hal.
Pertama, jaga lisan dan tulisan. Tidak semua kabar harus disebarkan, dan tidak semua perbedaan harus dibalas penghinaan. Periksa kebenaran berita dan pikirkan akibat ucapan kita.
Kedua, berlaku adil kepada siapa pun. Jangan membela kesalahan hanya karena pelakunya orang dekat. Jangan pula menolak kebaikan hanya karena datang dari orang yang berbeda. Selesaikan sengketa tanpa mengabaikan hak pihak yang dirugikan.
Ketiga, wujudkan persaudaraan melalui pertolongan. Perbaiki hubungan keluarga yang renggang. Tengok tetangga yang kesulitan. Jika memiliki kewenangan, gunakan untuk melindungi hak masyarakat.
Terkadang persatuan diuji saat kita harus meminta maaf lebih dahulu, mendengar pendapat orang lain sampai selesai, atau mengakui kekeliruan kelompok sendiri. Bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh mereka yang lantang menyerukan persatuan, melainkan oleh orang yang menjaga keadilan dan merawat persaudaraan setiap hari.
Sebelum pulang, mungkin terlintas satu nama di benak kita: saudara yang belum kita sapa, teman yang pernah kita sakiti, atau tetangga yang kesulitannya kita ketahui tetapi belum kita bantu. Jangan buru-buru melupakan nama itu. Jika keadaan memungkinkan, hubungi dia. Sampaikan salam, akui kesalahan kita bila ada, atau tanyakan apa yang dapat kita bantu. Jangan sampai khutbah ini hanya menyentuh hati di masjid, tetapi tidak mengubah sikap kita setelah pulang.
Marilah kita berdoa.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ. اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالْبَغْضَاءِ
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْعَدْلَ وَالْإِحْسَانَ وَالصِّدْقَ وَالْأَمَانَةَ، وَوَفِّقْ شَبَابَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا فِيهِ خَيْرُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْفُرْقَةِ وَالْعُدْوَانِ، وَفَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ، وَاقْضِ حَوَائِجَ الْمُحْتَاجِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Penulis: K.M. Andi Muh. Nur Atma Amir, S.H., M.E.