Dalam bahasa Arab, ‘Ibadurrahman berarti hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih, yang secara bahasa mencakup seluruh hamba Allah. Namun, yang dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah hamba-hamba Allah yang beriman, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat 63 dari Surah Al-Furqan:
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (adalah) mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati...” (QS. Al-Furqan: 63)
Beliau berkata, “Inilah sifat-sifat hamba-hamba Allah yang beriman.”
Oleh karena itu, ‘Ibadurrahman adalah hamba-hamba Allah yang beriman kepada-Nya dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ.
Di antara ciri-ciri atau sifat yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an adalah:
1. Tawadu (Rendah Hati)
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Furqan:
“(Yaitu) mereka yang berjalan di atas bumi dengan penuh rendah hati...” (QS. Al-Furqan: 63)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang tawadu melainkan karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim, 2588)
Diriwayatkan pula dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
“Sesungguhnya tawadu itu tidak menambahkan kecuali pengangkatan (derajat). Maka, tawadulah kalian, niscaya Allah akan mengangkat derajat kalian.” (Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadlihi, karya Ibnu ‘Abdil Bar, jilid 1, hlm. 562)
2. Bersikap Lembut Terhadap Orang yang Jahil (Bodoh)
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Furqan:
“Dan ketika orang-orang bodoh berbicara kepada mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)
Maksudnya, ketika orang-orang yang jahil melontarkan kalimat-kalimat yang kurang berkenan kepada mereka, mereka tetap berlemah lembut dan membalasnya dengan perkataan yang baik.
Sa‘id bin Jubair berkata bahwa makna qālā salāmā adalah: “Mereka membalasnya dengan perkataan yang baik.”
3. Menjaga Salat Malam
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Furqan:“Dan orang-orang yang menghabiskan malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.” (QS. Al-Furqan: 64)
Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Az-Zariyat: 17–18)
Salat malam adalah ibadah yang agung, kebiasaan para nabi dan orang-orang saleh, serta sebagai sarana pengugur dosa dan pendekatan diri seorang hamba kepada Allah. Oleh karena itu, sepatutnya setiap Muslim membiasakan diri mengerjakannya untuk meneladani jejak para nabi dan orang-orang saleh (Fatawa Nur ‘Ala ad-Darb, Syaikh Bin Baz, jilid 10, hlm. 110).
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah ﷻ kagum kepada dua orang: seseorang yang bangkit dari tempat tidur dan selimutnya, meninggalkan keluarga serta kelompoknya untuk melaksanakan salat. Maka Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat-Nya: ‘Wahai para malaikat-Ku, lihatlah hamba-Ku ini, ia bangkit dari tempat tidur dan selimutnya, serta meninggalkan keluarga dan kelompoknya untuk menunaikan salat karena mengharapkan apa yang ada di sisi-Ku dan merasa takut terhadap (siksa) yang ada di sisi-Ku...” (HR. Ahmad, 3949)
Maka, sepatutnya seorang Muslim berusaha sebisa mungkin untuk melaksanakan salat malam, meskipun hanya sedikit. Sebab, amalan sedikit yang dilakukan secara berkesinambungan adalah lebih baik daripada amalan banyak namun terputus.
4. Berdoa Memohon Perlindungan dari Azab Neraka
Allah ﷻ berfirman:
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami; sesungguhnya azab itu adalah kebinasaan yang kekal.’” (QS. Al-Furqan: 66)
Allah semakin mencintai hamba-Nya yang senantiasa meminta dan berdoa kepada-Nya. Ketika engkau meminta, mintalah yang terbaik: kehidupan terbaik dan perlindungan terbaik. Termasuk dalam ayat ini, mereka memohon perlindungan terbaik agar terhindar dari neraka Jahanam. Begitu pula ketika engkau memohon surga, mintalah tingkatan surga yang tertinggi.
5. Pertengahan dalam Berinfak
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Furqan:
“Dan orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” (QS. Al-Furqan: 67)
Harta tidak akan berkurang karena sedekah, dan Allah menjanjikan balasan berlipat ganda bagi mereka yang menginfakkan hartanya di jalan kebaikan. Namun, jangan sampai kedermawanan tersebut membuat seseorang melalaikan kewajiban nafkah bagi diri, keluarga, anak-anak, atau orang-orang yang berada di bawah tanggungannya—seperti menghabiskan seluruh hartanya untuk bersedekah kepada orang fakir sementara keluarganya diabaikan.
Bersikaplah di tengah-tengah: jadilah dermawan, namun tetap tunaikan kewajiban nafkah sebagaimana mestinya. Jangan terlalu kikir sehingga enggan memberi nafkah kepada keluarga atau bersedekah kepada yang membutuhkan.
6. Tidak Menyekutukan Allah (Menjauhi Syirik)
Allah ﷻ berfirman:
“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan tuhan lain...” (QS. Al-Furqan: 68)
Salah satu sifat yang melekat pada diri orang-orang beriman adalah mengesakan Allah. Mereka tidak menduakan Allah karena mereka memahami bahwa ibadah yang teragung di sisi Allah ﷻ adalah tauhid, dan maksiat yang paling besar di sisi-Nya adalah kesyirikan.
7. Tidak Membunuh Jiwa yang Tidak Bersalah, Dan Menjaga Kehormatannya
Allah ﷻ berfirman:
“Dan mereka tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina...” (QS. Al-Furqan: 68)
Wallahu A’lam.
Jazakumullahu khairan, semoga bermanfaat.
Penulis: Ahmad Nasing
