Dewasa ini, kita melihat keprihatinan terhadap perilaku sebagian pelajar di zaman ini yang semakin jauh dari nilai-nilai penghormatan kepada guru dan pendidik. Sebagian dari mereka bahkan tidak segan melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan, seperti berkata kasar di hadapan pendidik, bersikap tidak sopan, bahkan melawan ketika mendapatkan teguran.
Keadaan ini tentu berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Dahulu, ketika seorang murid mendapatkan teguran atau nasihat dari seorang pendidik, mereka cenderung diam, mendengarkan dengan penuh hormat, dan berusaha memperbaiki kesalahan. Bahkan, jika merasa memiliki persoalan dengan gurunya, mereka lebih memilih menyampaikannya kepada orang tua daripada membalas atau melawan gurunya.
Namun, zaman telah berubah. Hari ini, sebuah teguran terkadang justru dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan. Tidak jarang persoalan kecil berkembang menjadi masalah besar. Seorang pendidik yang semestinya dihormati karena tugas dan tanggung jawabnya dalam mendidik justru dapat menghadapi perlakuan yang tidak sepantasnya.
Lalu, apakah mereka tidak menyadari bahwa seorang pendidik memiliki peran yang begitu penting dalam setiap episode kehidupan seseorang? Semua orang membutuhkan pendidik dalam perjalanan hidupnya. Bahkan dalam proses mencari dan memperoleh ilmu, keberadaan seorang pendidik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan.
Sebagaimana yang dinisbatkan kepada Imam Syafi'i رحمه الله:
العِلْمُ لَا يُنَالُ إِلَّا بِسِتَّةِ أَشْيَاءَ...وإرشاد أستاذ
“Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan beberapa perkara… salah satunya adalah bimbingan seorang pendidik.” Karena itu, sudah sepantasnya kita memberikan penghormatan yang terbaik kepada para pendidik kita, terlebih lagi kepada para ulama dan guru yang telah mencurahkan ilmu, waktu, tenaga, dan perhatiannya untuk mendidik kita.
Para ulama terdahulu memberikan teladan yang sangat indah dalam menghormati guru. Di antara mereka bahkan ada yang begitu memuliakan anak dari gurunya sebagai bentuk penghormatan kepada sang guru. Ada pula kisah tentang Imam Syafi'i رحمه الله yang menunjukkan betapa tinggi penghormatannya kepada gurunya. Sikap-sikap seperti ini mengajarkan kepada kita bahwa ilmu tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga membutuhkan adab kepada orang yang menyampaikannya.
Sebab, bagaimana mungkin seseorang berharap mendapatkan keberkahan ilmu jika ia tidak menghargai orang yang menjadi perantara sampainya ilmu tersebut? Pendidik bukan sekadar seseorang yang berdiri di depan kelas, membuka buku, kemudian menyampaikan pelajaran. Di balik sosok seorang pendidik, ada ilmu yang diwariskan, ada waktu yang dikorbankan, ada kesabaran yang terus dijaga, dan ada doa yang mungkin tidak pernah diketahui oleh murid-muridnya.
Jika bukan karena pendidik, mungkin kita tidak akan mengenal banyak hal yang hari ini kita ketahui. Bahkan, jika bukan karena pendidik yang mengajarkan ilmu agama, boleh jadi kita tidak akan mengenal Rabb kita sebagaimana mestinya. Mereka membimbing kita untuk mengenal siapa yang menciptakan kita, untuk apa kita diciptakan, dan ke mana kehidupan ini akan berakhir.
Maka, sudah sepantasnya seorang pendidik mendapatkan penghormatan yang baik dari para muridnya. Perhatikanlah diri kita. Seandainya manusia hidup tanpa adanya seorang pendidik, bagaimana mungkin ia akan mengenal ilmu yang membentuk kehidupannya? Bagaimana mungkin ia mengetahui siapa yang menciptakannya, jika tidak ada orang yang mengajarkan dan membimbingnya?
Karena itu, jangan pernah menganggap kecil jasa seorang pendidik. Mungkin hari ini kita merasa bahwa teguran mereka terlalu keras. Mungkin nasihat mereka terasa membosankan. Mungkin aturan yang mereka berikan terasa membatasi kebebasan kita.
Tetapi suatu hari nanti, ketika kita telah tumbuh dewasa dan menjalani kehidupan yang lebih luas, kita mungkin akan menyadari bahwa di balik teguran itu terdapat kepedulian, di balik nasihat itu terdapat kasih sayang, dan di balik ketegasan itu terdapat harapan agar kita menjadi manusia yang lebih baik.
Maka, mari kita belajar kembali menghormati para pendidik. Jaga lisan ketika berbicara kepada mereka. Dengarkan nasihatnya. Terima tegurannya dengan lapang dada. Doakan kebaikannya. Dan jangan pernah melupakan jasa mereka setelah kita meninggalkan bangku pendidikan. Sebab boleh jadi, keberhasilan yang kita raih suatu hari nanti tidak hanya lahir dari usaha kita sendiri, tetapi juga dari doa dan kesabaran seorang pendidik yang pernah membimbing kita.
Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, dan kesabaran kepada seluruh pendidik yang ada di zaman ini. Semoga Allah membalas setiap ilmu yang mereka ajarkan, setiap waktu yang mereka korbankan, setiap nasihat yang mereka sampaikan, dan setiap kesabaran yang mereka berikan kepada para muridnya. Sebab ilmu mungkin dapat membuat seseorang menjadi pintar, tetapi adab kepada pendidiklah yang menjadikan ilmu itu bernilai dan penuh keberkahan.
(Muh. Al-Fayyadh, A. M. Nur Atma Amir, M.E.)
