Guru bukan Malaikat yang tidak pernah salah dan keliru. Dia layaknya manusia pada umumnya, benar dan bersalah. Rasulullah bersabda:
كل بنى ادم خطاء وخير الخطائين التوابون
“Semua anak cucu adam banyak mekakukan kesalahan, dan sebaik baik mereka yang bersalah adalah yang kembali bertaubat kepada Allah.”
Mungkin kelak seorang murid akan mendapati gurunya keliru dalam memilih pandangan, atau mungkin akan berbeda pandangan dalam berbagai permasalahan, sehingga murid butuh lebih mendalami adab terlebih dahulu sebelum ilmu. Agar kelak ia tidak sombong atau melihat dirinya lebih baik dari gurunya, saat hal itu terjadi.
Sang penganut adab yang mulia, akan senantiasa merasa bahwa apa yang luput dari gurunya hanyalah sedikit, sementara yang luput darinya begitu banyak. Ia akan berkata:
فاته شيئ وفاتتني أشياء
“Terluput dari guruku satu hal ilmu, dan terluput bagiku banyak ilmu"
Dengannya, para ulama kita dahulu, lebih memilih terlebih dahulu memperbaiki adab sebelum mendalami ilmu. Bahkan ada di antara mereka yang belajar adab selama puluhan tahun kemudian mendalami ilmu. Seperti yang disampaikan oleh Abdullah bin Mubarak:
طَلَبْتُ الأَدَبَ ثَلَاثِينَ سَنَةً، وَطَلَبْتُ الْعِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً، وَكَانُوا يَطْلُبُونَ الأَدَبَ ثُمَّ الْعِلْمَ[1]
"Aku mempelajari adab selama 30 tahun, dan aku mempelajari ilmu selama 20 tahun. Adalah mereka (para salaf) mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu."
Dalam majlis Imam Ahmad hadir sekitar 5000 hadirin atau lebih, sekitar 700 orang yang mencatat, sedangkan sisanya hanya untuk mengambil adabnya Imam Ahmad rahimahullah.
كَانَ يَجْتَمِعُ فِي مَجْلِسِ أَحْمَدَ زُهَاءُ خَمْسَةِ آلَافٍ أَوْ أَكْثَرُ، أَقَلُّ مِنْ سَبْعِ مِائَةٍ يَكْتُبُونَ، وَالْبَاقُونَ يَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ حُسْنَ الأَدَبِ وَالسَّمْتِ[2]
"Dahulu berkumpul di majelis Imam Ahmad sekitar 5.000 orang atau lebih. Kurang dari 700 orang yang mencatat (ilmu/hadis), sedangkan sisanya (sekitar 4.300-an orang) belajar dari beliau kebaikan adab dan ketenangan sikap (as-samt)."
Juga terlihat urgennya adab pada nasehat Sang Ibu dari Imam Malik (Ibnu Sirin & Ibnu al-Qasim meriwayatkan dari Imam Malik) bahwa beliau berkata:
[3] كانت أمي تعممني وتقول لي اذهب إلى ربيعة فتعلم من أدبه قبل علمه.
“Ibuku senantiasa memakaikan surbanku lalu berkata: ‘Pergilah kepada Rabi'ah, lalu pelajarilah adabnya sebelum ilmunya’ ."
Keindahan adab seorang murid, telah banyak dicontohkan oleh pendahulu kita. Sebagaimana mereka ketika beranjak menuju gurunya, mereka bersedekah dengan sesuatu lalu mereka berdo’a:
اللهم استر عيب شيخي عني ، ولا تذهب بركة علمه مني[4]
“Ya Allah! Tutuplah aib guruku dariku, dan jangan Engkau jauhkan keberkahan ilmunya dariku.”
Imam Syu’bah berkata:
كنت إذا سمعت من الرجل الحديث كنت له عبدا ما يحيا[5]
“Saya jika mendengarkan dari seseorang hadis, maka saya adalah budaknya selama ia hidup”
Dan pada akhirnya, adab kepada guru adalah kunci kesuksesan seorang penuntut ilmu. Sebagaimana yang disebutkan oleh imam al-Zurnuji:
اعلم بأن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله, وتعظيم الأستاذ وتوقيره[6]
“Ketahilah bahwa penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu, dan tidak akan mendapatkan manfaat darinya kecuali dengan mengagungkan ilmu dan pemiliknya, dan mengagungkan ustaz dan menghormatinya.”
Semoga bermanfaat
Ahmad Nasing
[1]Ibnu Jauzi, Ghayah annihayah fi thabaqat al-Alqurra' jilid 1, h. 449. al-Qadhi Iyadh, Tartib al-Madarik, jilid 3, h. 39.
[2] Syamsuddin al-Dzahabi, Siyar A'lam Nubala', jilid 11, h. 316.
[3]al-Qashi Iyadh, Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik, jilid 1 h. 119.
[4] Badruddin ibnu Jama'ah, Tadzkirah al-Sami' walmutakallim fi adab al-alim walmutaa'llim, h. 157
[5] Badruddin ibnu Jama'ah, Tadzkirah al-Sami' walmutakallim fi adab al-alim walmutaa'llim, h. 158
[6] Burhanuddin al-Zurnuji, Ta'lim Muta'allim thariq al-Ta'allum, h. 55
