Pengalaman yang Tidak Semua Anak Bisa Dapatkan

Ada pengalaman-pengalaman dalam hidup yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Menjadi santri di pondok adalah salah satunya.

Banyak orang mungkin berpikir bahwa belajar cukup dilakukan di sekolah atau kampus. Setelah mendapatkan ilmu, seseorang tinggal melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mencari pekerjaan, atau mengejar berbagai cita-cita yang diinginkannya. Namun, ada sesuatu yang sering kali tidak terlihat dari proses pendidikan itu: pengalaman hidup.

Dan pengalaman itulah yang sedang kita jalani di pondok.

Sebagai santri, kita mungkin pernah merasa bahwa kehidupan di pondok begitu berat. Kita harus jauh dari keluarga. Kita harus mengikuti jadwal yang telah ditentukan. Bangun pagi, belajar, beribadah, mengikuti berbagai kegiatan, dan kembali belajar hingga waktu istirahat tiba.

Di luar sana, mungkin ada anak-anak seusia kita yang dapat dengan bebas menggunakan HP, bermain kapan saja, pergi ke mana saja, dan melakukan berbagai hal yang mereka sukai.

Sementara kita?

Kita justru hidup dalam berbagai aturan.

Kadang muncul dalam hati kita pertanyaan, “Mengapa saya harus berada di sini? Mengapa tidak seperti mereka yang bisa bebas melakukan apa saja?”

Namun, mungkin kita perlu melihat kehidupan pondok dari sudut pandang yang berbeda.

Tidak semua keterbatasan adalah kerugian.

Ada keterbatasan yang justru sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat.

Jauh dari keluarga, misalnya, membuat kita belajar mandiri. Kita tidak selalu bisa meminta bantuan orang tua ketika menghadapi masalah. Banyak hal harus kita lakukan sendiri. Kita belajar mengurus kebutuhan pribadi, mengatur waktu, menyelesaikan persoalan, dan bertanggung jawab terhadap pilihan kita.

Di luar sana, mungkin masih banyak anak yang segala kebutuhannya dibantu oleh orang tua. Tetapi di pondok, kita perlahan-lahan belajar berdiri di atas kaki sendiri.

Itulah pengalaman.

Dan pengalaman semacam ini tidak selalu bisa diperoleh hanya dari buku atau ruang kelas.

Menjadi santri juga mengajarkan kita tentang kesabaran.

Tidak setiap hari kita merasa senang. Ada hari ketika kita merasa lelah. Ada saat ketika kita merasa bosan dengan rutinitas. Ada pula masa ketika kita ingin segera pulang karena tidak tahan dengan kehidupan pondok.

Bahkan, tidak sedikit santri baru yang baru beberapa bulan berada di pondok sudah mulai mengeluh karena merasa belum mampu beradaptasi dengan kehidupan sebagai santri.

Tetapi justru di situlah proses pembentukan diri berlangsung.

Kita belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita belajar bertahan ketika keadaan tidak nyaman. Kita belajar mengikuti aturan meskipun tidak semuanya sesuai dengan keinginan kita.

Dan tanpa kita sadari, semua itu sedang melatih kita untuk menghadapi kehidupan yang jauh lebih luas setelah keluar dari pondok.

Suatu hari nanti, kita mungkin akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kita mungkin akan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Kita mungkin akan memasuki dunia kerja, membangun keluarga, atau menjalani berbagai tanggung jawab yang lebih besar.

Pada saat itulah, pengalaman sebagai santri akan kembali terasa manfaatnya.

Kita akan menyadari bahwa kemampuan bangun tepat waktu, mengatur jadwal, hidup disiplin, bekerja sama dengan orang lain, menjaga ibadah di tengah kesibukan, dan bertahan ketika menghadapi kesulitan ternyata bukan hal-hal kecil.

Semua itu adalah bekal.

Bahkan mungkin, bertahun-tahun setelah meninggalkan pondok, kita justru akan merindukan hal-hal yang dahulu sering kita keluhkan.

Kita akan merindukan kebersamaan dengan teman-teman. Kita akan mengingat guru-guru yang dahulu dengan sabar membimbing kita. Kita akan mengenang suasana belajar, kegiatan bersama, bahkan berbagai aturan yang dahulu terasa begitu berat.

Sebab ketika semuanya telah berlalu, kita baru memahami bahwa tidak semua pengalaman harus menyenangkan untuk menjadi berharga.

Ada pengalaman yang justru baru kita syukuri setelah kita meninggalkannya.

Mungkin hari ini kita merasa kehidupan pondok membatasi kebebasan kita.

Tetapi suatu saat nanti kita akan memahami bahwa pondok sebenarnya sedang mempersiapkan kita untuk sebuah kebebasan yang lebih besar: kebebasan untuk menentukan masa depan dengan bekal ilmu, kedisiplinan, kemandirian, dan akhlak.

Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap kehidupan pondok sebagai masa yang harus segera dilewati.

Nikmatilah prosesnya.

Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jalani aturan dengan lapang dada. Hormati guru. Jaga persaudaraan dengan sesama santri. Dan manfaatkan setiap kesempatan yang diberikan selama berada di pondok.

Sebab kita tidak pernah tahu, pengalaman mana yang kelak paling kita rindukan.

Boleh jadi, hal yang hari ini paling kita keluhkan justru menjadi hal yang suatu hari nanti paling kita kenang.

Maka, jika hari ini kita sedang merasa lelah menjadi santri, ingatlah satu hal:

Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk merasakan apa yang sedang kita rasakan.

Tidak semua orang pernah merasakan hidup jauh dari keluarga demi menuntut ilmu. Tidak semua orang pernah belajar hidup dalam kedisiplinan pondok. Tidak semua orang pernah merasakan kebersamaan dan perjuangan bersama teman-teman dalam menuntut ilmu.

Karena itu, jangan hanya melihat apa yang tidak bisa kita lakukan di pondok.

Lihatlah apa yang sedang kita dapatkan.

Kita sedang mendapatkan pengalaman yang tidak bisa didapatkan semua orang.

Dan kelak, ketika perjalanan hidup membawa kita jauh dari pondok, semoga kita dapat berkata kepada diri sendiri:

“Ternyata, masa-masa menjadi santri adalah salah satu pengalaman terbaik yang pernah Allah berikan dalam hidupku.”

(Farid Al-Munawwara / Andi Muh. Nur Atma Amir, M.E.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *