Khutbah Jumat · 23 Oktober 2026 · K.M. Andi Muh. Nur Atma Amir, S.H., M.E.
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ، وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعَمٍ لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَأَمَرَنَا بِالْإِصْلَاحِ وَنَهَانَا عَنِ الْفَسَادِ وَالْإِفْسَادِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Coba kita renungkan sejenak.
Ketika udara terasa semakin panas, kita mengeluh.
Ketika air bersih mulai sulit didapatkan, kita mengeluh.
Ketika hujan turun dan air menggenangi rumah, kita mengeluh.
Ketika asap membuat anak-anak sulit bernapas, kita kembali mengeluh.
Dan ketika bencana datang, kita bertanya, "Mengapa semua ini terjadi?"
Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin lebih jarang kita ajukan.
Sudah sejauh mana tangan kita sendiri ikut menjaga bumi yang Allah titipkan kepada kita?
Kita mengeluhkan sungai yang kotor. Tetapi apakah kita sudah berhenti membuang sampah sembarangan?
Kita mengeluhkan udara yang tercemar. Tetapi apakah kita pernah membakar sampah tanpa memikirkan asap yang masuk ke rumah tetangga?
Kita mengeluhkan berkurangnya pepohonan. Tetapi apakah kita sungguh-sungguh peduli ketika ruang hijau di sekitar kita terus menghilang?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya untuk orang lain.
Ini untuk saya yang berdiri di atas mimbar.
Dan untuk kita semua yang sedang duduk mendengarkan khutbah.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Pada pekan ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika kembali mengingatkan masyarakat tentang cuaca panas, kondisi lahan yang mengering, serta ancaman kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.
Di sebagian daerah, masyarakat harus berhati-hati terhadap kekeringan dan kebakaran. Sementara di daerah lain, potensi hujan lebat tetap perlu diwaspadai.
Keadaan ini mengingatkan kita pada satu kenyataan penting.
Kehidupan manusia sangat bergantung kepada keadaan alam.
Kita membutuhkan air untuk minum.
Kita membutuhkan tanah untuk menanam.
Kita membutuhkan udara yang bersih untuk bernapas.
Dan kita membutuhkan lingkungan yang aman agar anak-anak dapat tumbuh dengan baik.
Namun, sering kali kita baru benar-benar menyadari nilai semua itu setelah mulai kehilangan sebagian darinya.
Air terasa sangat berharga ketika sumur mengering.
Udara bersih terasa begitu mahal ketika asap memenuhi lingkungan.
Dan pepohonan baru kita rindukan setelah panas terasa semakin menyengat.
Padahal, selama ini semua itu telah menjadi bagian dari nikmat Allah yang kita gunakan setiap hari.
Ma'asyiral Muslimin, rahimakumullah.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Surah Ar-Rūm ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali."
Perhatikan baik-baik ayat ini, jamaah sekalian.
Allah mengingatkan manusia bahwa kerusakan di muka bumi berkaitan dengan perbuatan mereka sendiri.
Dalam penjelasan para mufasir, kerusakan pada ayat ini memiliki cakupan yang luas, termasuk kemaksiatan dan berbagai akibat buruk yang timbul dalam kehidupan manusia.
Karena itu, ayat ini tidak boleh kita batasi hanya pada persoalan sampah, hutan, atau pencemaran.
Namun, prinsip yang dikandungnya sangat relevan untuk direnungkan ketika tindakan manusia menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan dan kehidupan sesama.
Sebab, banyak kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah apabila manusia tidak mengutamakan kepentingan sesaat dengan mengabaikan akibatnya.
Dan di penghujung ayat tersebut, Allah menyebutkan:
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Agar mereka kembali."
Kembali kepada apa?
Kembali kepada ketaatan.
Kembali kepada keadilan.
Kembali kepada tanggung jawab.
Kembali meninggalkan perbuatan yang menimbulkan kerusakan.
Seolah-olah ayat ini mengajak kita merenungkan bahwa peringatan seharusnya mendorong perubahan, bukan hanya menghasilkan keluhan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Ada sesuatu yang perlu kita akui bersama.
Kita sering merasa sangat membutuhkan alam, tetapi tidak selalu memperlakukannya dengan baik.
Ketika membutuhkan kayu, kita ingat hutan.
Ketika membutuhkan air, kita ingat sungai.
Ketika membutuhkan lahan, kita ingat tanah.
Tetapi ketika memperoleh keuntungan dari semua itu, apakah kita juga mengingat tanggung jawab untuk menjaganya?
Allah berfirman dalam Surah Al-A‘rāf ayat 56:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
"Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik."
Ayat ini mengandung larangan yang tegas.
Jangan membuat kerusakan.
Jangan merusak sesuatu yang seharusnya dijaga.
Jangan mengubah nikmat yang diberikan Allah menjadi sumber penderitaan bagi manusia dan makhluk lainnya.
Tentu, Islam tidak melarang manusia memanfaatkan sumber daya alam.
Kita membutuhkan rumah, makanan, pakaian, jalan, dan berbagai sarana kehidupan.
Bertani, membangun, berdagang, dan mengelola kekayaan alam pada dasarnya merupakan bagian dari usaha manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tetapi pemanfaatan bukan berarti kebebasan untuk merusak.
Pembangunan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan masyarakat.
Keuntungan tidak boleh dijadikan pembenaran untuk merampas hak orang lain.
Dan kebutuhan manusia hari ini tidak boleh membuat kita sama sekali tidak peduli terhadap kehidupan generasi yang akan datang.
Ma'asyiral Muslimin, rahimakumullah.
Pada kesempatan ini, marilah kita berbicara kepada semua pihak. Bukan untuk saling menyalahkan, tetapi agar masing-masing melihat tanggung jawabnya.
Kepada para pemimpin dan pemegang kekuasaan.
Jabatan adalah amanah.
Kewenangan membuat aturan, memberikan izin, mengawasi kegiatan usaha, dan melindungi masyarakat bukanlah kekuasaan tanpa pertanggungjawaban.
Ketika ada kegiatan yang berpotensi merusak lingkungan, tugas pemimpin bukan sekadar memastikan bahwa dokumennya lengkap.
Yang juga harus diperhatikan adalah apakah ketentuan benar-benar dipatuhi, apakah pengawasan berjalan, dan apakah keselamatan masyarakat terlindungi.
Jangan sampai aturan terlihat baik di atas kertas, tetapi pelanggaran dibiarkan terjadi di lapangan.
Jangan sampai suara masyarakat yang terdampak lebih mudah diabaikan daripada kepentingan pihak yang memiliki kekuasaan dan modal.
Sebab, setiap kewenangan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
Kepada para pengusaha dan pemilik modal.
Kita memahami bahwa usaha menciptakan pekerjaan. Investasi dapat menggerakkan ekonomi. Industri dapat menghasilkan manfaat yang besar bagi masyarakat.
Tetapi keuntungan yang baik tidak semestinya diperoleh dengan memindahkan penderitaan kepada orang lain.
Apa artinya sebuah usaha memperoleh keuntungan besar jika limbahnya mencemari sumber air yang digunakan masyarakat?
Apa artinya sebuah proyek selesai dibangun jika pengelolaan lingkungannya diabaikan dan penduduk sekitar harus menanggung akibatnya?
Dan apa artinya kita membanggakan keberhasilan bisnis jika sebagian biaya sebenarnya ditanggung oleh orang-orang yang kehilangan kesehatan, kenyamanan, atau sumber penghidupan mereka?
Jangan hanya menghitung apa yang diperoleh perusahaan.
Hitung juga dampak yang harus ditanggung masyarakat.
Karena harta yang diperoleh hari ini tidak menghapus pertanggungjawaban kita di hadapan Allah kelak.
Kepada orang-orang yang memiliki kelapangan harta.
Nikmat kekayaan adalah kesempatan untuk berbuat banyak kebaikan.
Namun, kekayaan juga dapat memperbesar dampak dari kebiasaan kita.
Semakin besar konsumsi, semakin besar pula tanggung jawab untuk tidak berlebihan dan tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain.
Jangan merasa telah menyelesaikan tanggung jawab lingkungan hanya karena sesekali berdonasi atau mengikuti kegiatan penanaman pohon.
Lihat pula bagaimana kita menggunakan air, listrik, makanan, barang-barang, dan fasilitas yang kita miliki.
Sebab, kepedulian yang sebenarnya tidak cukup ditunjukkan ketika ada orang yang melihat.
Ia juga hadir dalam kebiasaan yang dilakukan ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan.
Kepada para ulama, ustaz, dan penceramah, termasuk diri saya sendiri.
Kita banyak berbicara tentang ibadah, halal dan haram, serta kewajiban menjaga hak sesama manusia.
Tetapi sudahkah kita cukup sering mengingatkan umat tentang dosa merugikan orang lain melalui perusakan lingkungan?
Sudahkah kita menjelaskan bahwa membuang sampah sembarangan, mencemari air, atau melakukan usaha dengan cara yang membahayakan masyarakat bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga dapat menyangkut amanah dan kezaliman?
Jangan sampai kita fasih mengajarkan kesucian dalam ibadah, tetapi kurang memberi perhatian pada tanggung jawab menjaga kebersihan dan keselamatan lingkungan.
Dan sebelum menasihati jamaah, kita sendiri harus berusaha memberikan teladan.
Kepada para aktivis dan pejuang lingkungan.
Teruslah menyuarakan kebenaran berdasarkan bukti.
Teruslah memperjuangkan hak masyarakat yang terdampak.
Tetapi jagalah pula kejujuran, ketelitian, dan keadilan dalam menyampaikan kritik.
Jangan menyebarkan tuduhan yang belum terbukti.
Jangan menjadikan perjuangan lingkungan sebagai kesempatan mempermalukan orang yang sebenarnya masih dapat diajak berubah.
Sebab, tujuan kita bukan sekadar memenangkan perdebatan.
Tujuan kita adalah mencegah kerusakan dan memperbaiki keadaan.
Dan kepada masyarakat biasa, kepada kita semua.
Jangan selalu menganggap bahwa urusan menjaga bumi hanyalah tanggung jawab pemerintah atau perusahaan besar.
Memang benar, mereka yang memiliki kekuasaan dan pengaruh besar memikul tanggung jawab yang lebih besar pula.
Tetapi kita juga memiliki bagian.
Sampah yang kita buang sembarangan tidak menjadi benar hanya karena jumlahnya sedikit.
Air yang kita hamburkan tidak menjadi bermanfaat hanya karena kita mampu membayar tagihannya.
Dan membakar sampah yang mengganggu kesehatan tetangga tidak menjadi baik hanya karena dilakukan di halaman rumah sendiri.
Kita sering menuntut lingkungan yang bersih, tetapi kadang lupa membersihkan kebiasaan kita sendiri.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Sekarang, coba kita bayangkan seorang anak kecil yang harus menggunakan masker karena udara di sekitarnya dipenuhi asap.
Ia tidak memahami seluruh persoalan yang menyebabkan keadaan itu.
Ia tidak mengetahui siapa yang mengeluarkan izin.
Ia tidak mengetahui siapa yang memperoleh keuntungan.
Ia juga tidak mengetahui siapa yang seharusnya melakukan pengawasan.
Yang ia tahu hanyalah dadanya terasa sesak, matanya perih, dan ia tidak dapat bermain seperti biasanya.
Bayangkan pula keluarga yang harus mencari sumber air lain karena air yang biasa mereka gunakan tidak lagi layak.
Mereka mungkin tidak pernah menikmati keuntungan dari kegiatan yang mencemari lingkungan tersebut.
Tetapi mereka ikut menanggung kerugiannya.
Di sinilah persoalan lingkungan menjadi persoalan keadilan.
Jangan sampai keuntungan dinikmati oleh sebagian orang, sementara penderitaannya diwariskan kepada banyak orang.
Dan jangan sampai mereka yang memiliki suara paling kecil justru harus menanggung akibat yang paling berat.
Jamaah sekalian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ
"Dan menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah."
(HR. Muslim, no. 1009)
Betapa indahnya ajaran Islam.
Menyingkirkan gangguan dari jalan saja mendapatkan nilai sedekah.
Lalu bagaimana dengan usaha mencegah gangguan yang lebih besar terhadap kehidupan masyarakat?
Bagaimana dengan menjaga sumber air agar tidak tercemar?
Bagaimana dengan mencegah kebakaran yang dapat mengganggu pernapasan ribuan orang?
Bagaimana dengan menghentikan kegiatan yang membahayakan keselamatan manusia?
Semua itu patut kita tempatkan dalam kerangka tanggung jawab, kemaslahatan, dan usaha mencegah kemudaratan.
Tetapi jangan berhenti hanya pada kesadaran.
Sebab, bumi tidak menjadi lebih bersih hanya karena kita pandai berbicara tentang kebersihan.
Sungai tidak menjadi jernih hanya karena kita menyesalkan pencemaran.
Dan lingkungan tidak menjadi aman hanya karena kita mengadakan banyak pertemuan tentang pentingnya menjaga alam.
Perubahan harus dimulai melalui perbuatan.
Ma'asyiral Muslimin, rahimakumullah.
Ada satu hal terakhir yang perlu kita renungkan sebelum mengakhiri khutbah pertama ini.
Anak-anak kita kelak akan tumbuh di bumi yang sama dengan tempat kita hidup hari ini.
Mereka akan menggunakan air yang kita jaga atau yang kita cemari.
Mereka akan menghirup udara yang kualitasnya dipengaruhi oleh keputusan-keputusan kita.
Dan mereka akan hidup di lingkungan yang sedikit banyak dibentuk oleh apa yang kita lakukan sekarang.
Maka, jangan sampai suatu hari nanti anak cucu kita harus menghadapi akibat dari kelalaian yang sebenarnya dapat kita cegah hari ini.
Jangan sampai kita meninggalkan kepada mereka rumah yang indah, tetapi lingkungan yang rusak.
Jangan sampai kita mewariskan harta, tetapi mengabaikan sumber kehidupan yang jauh lebih mendasar.
Dan jangan sampai kita sibuk mempersiapkan masa depan keluarga sendiri, tetapi lupa bahwa mereka juga membutuhkan bumi yang layak untuk ditinggali.
Allah telah memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri dan keadaan.
Jangan menunggu sampai kerusakan menjadi semakin parah.
Jangan menunggu sampai air bersih semakin sulit diperoleh.
Jangan menunggu sampai asap masuk ke dalam rumah kita sendiri.
Karena amanah tidak hanya diuji ketika kita menerima sesuatu. Amanah juga diuji melalui keadaan sesuatu itu ketika kita menyerahkannya kepada generasi berikutnya.
Semoga Allah mengampuni kelalaian kita dan membimbing kita untuk memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
[Khatib duduk sejenak di antara dua khutbah.]
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ، وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Setelah mendengarkan berbagai peringatan tadi, mungkin ada di antara kita yang bertanya:
Apa yang bisa saya lakukan?
Saya bukan pejabat. Saya bukan pengusaha besar. Saya tidak memiliki kekuasaan untuk membuat aturan.
Apakah tindakan kecil saya benar-benar berarti?
Jamaah sekalian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
"Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya."
(HR. al-Bukhārī, no. 2320)
Hadis ini memberikan harapan kepada kita.
Bahwa amal kebaikan tidak selalu harus besar dan terkenal.
Seseorang menanam pohon, lalu pohon itu memberi manfaat kepada makhluk lain. Allah menjadikannya sebagai sedekah bagi orang yang menanamnya.
Maka, jangan meremehkan kebaikan yang dapat kita mulai dari lingkungan sendiri.
Namun, kita juga harus memahami bahwa persoalan besar tidak cukup diselesaikan dengan tindakan pribadi saja.
Menanam pohon merupakan kebaikan.
Tetapi apabila penebangan yang merusak terus dibiarkan, maka diperlukan pula perbaikan kebijakan dan pengawasan.
Membersihkan selokan merupakan kebaikan.
Tetapi apabila limbah berbahaya terus dialirkan ke sungai, maka diperlukan penegakan aturan dan pertanggungjawaban pihak yang menyebabkan pencemaran.
Karena itu, mari kita mulai dari tiga langkah yang saling melengkapi.
Pertama, hentikan kerusakan yang kita lakukan sendiri.
Mulai hari ini, jangan membuang sampah sembarangan.
Jangan membakar sampah atau membuka lahan dengan cara yang membahayakan.
Gunakan air seperlunya.
Kurangi pemborosan makanan dan barang.
Ajarkan anak-anak menjaga kebersihan bukan hanya karena takut dimarahi, tetapi karena mereka harus belajar menghormati hak orang lain dan mensyukuri nikmat Allah.
Kedua, gunakan kewenangan dan kemampuan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar.
Jika kita seorang pemimpin, perbaikilah pengawasan.
Jika kita pengusaha, pastikan kegiatan usaha tidak mengabaikan keselamatan manusia dan lingkungan.
Jika kita guru atau ulama, ajarkan tanggung jawab menjaga lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam.
Jika kita memiliki harta, bantulah kegiatan perbaikan lingkungan yang jelas manfaat dan pertanggungjawabannya.
Dan jika kita mengetahui dugaan pelanggaran yang membahayakan masyarakat, sampaikan melalui saluran yang tepat dengan bukti yang benar.
Jangan diam hanya karena pihak yang melakukan kesalahan memiliki pengaruh.
Tetapi jangan pula menuduh tanpa pengetahuan.
Ketiga, lakukan satu perubahan nyata bersama keluarga atau lingkungan kita.
Mulailah dari rumah, masjid, sekolah, tempat usaha, atau lingkungan tempat tinggal.
Pastikan sampah memiliki tempat pembuangan yang benar.
Periksa saluran air yang tersumbat.
Rawat pepohonan yang sudah ada, bukan hanya menanam lalu membiarkannya mati.
Dan bangun kebiasaan saling mengingatkan dengan cara yang baik.
Jika memungkinkan, pengurus masjid dan masyarakat dapat menyepakati satu kegiatan perbaikan lingkungan yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Kita tidak mengetahui berapa lama lagi kesempatan hidup yang Allah berikan kepada kita.
Tetapi selama kesempatan itu masih ada, kita masih dapat memperbaiki sesuatu.
Jika pernah merusak, berhentilah.
Jika pernah lalai, mulailah peduli.
Jika memiliki kewenangan, gunakanlah untuk melindungi.
Jika memiliki kelebihan, gunakanlah untuk membantu.
Dan jika telah berbuat baik, jangan berhenti hanya karena perubahan yang diharapkan belum sepenuhnya terlihat.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang pandai mengeluhkan kerusakan, tetapi enggan memikul tanggung jawab memperbaikinya.
Semoga ketika anak-anak kita tumbuh dewasa nanti, mereka tidak hanya mengingat bahwa kita pernah mengajarkan pentingnya menjaga bumi.
Semoga mereka juga dapat melihat bahwa kita benar-benar telah berusaha menjaganya.
Karena bumi ini bukan milik kita untuk dirusak sesuka hati.
Ia adalah bagian dari ciptaan Allah yang kita tempati, manfaatkan, dan terhadapnya kita memiliki tanggung jawab.
Marilah kita memohon ampunan dan pertolongan Allah.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا، وَارْزُقْنَا التَّقْوَى وَالصِّدْقَ وَالْأَمَانَةَ
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الْفِتَنِ وَالْبَلَاءِ وَالْحَرَائِقِ وَالْفَيَضَانَاتِ وَسَائِرِ الْمَكَارِهِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ النَّافِعَ، وَاسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِلْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ، وَأَعِنْهُمْ عَلَى حِفْظِ الْأَرْوَاحِ وَالْحُقُوقِ، وَدَفْعِ الضَّرَرِ عَنِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ
اللَّهُمَّ ارْحَمِ الْمُتَضَرِّرِينَ مِنَ الْكَوَارِثِ، وَاشْفِ الْمَرْضَى، وَآوِ الْمُشَرَّدِينَ، وَفَرِّجْ هَمَّ الْمَهْمُومِينَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُصْلِحِينَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُفْسِدِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ