Izinkan Aku Berzina?

Seorang pemuda datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta izin melampiaskan gejolak nafsunya karena ingin berzina. Para sahabat yang hadir merasa marah dan hendak menghentikannya, namun Rasulullah ﷺ memintanya untuk mendekat. Ketika ia telah duduk di dekat Rasulullah ﷺ, beliau menasehatinya dengan baik dan penuh kelembutan. Beliau bersabda:

أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟ قَالَ: لَا وَاللَّهِ، جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: «وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ». قَالَ: «أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟» قَالَ: لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: «وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ». قَالَ: «أَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟» قَالَ: لَا وَاللَّهِ، جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: «وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ». قَالَ: «أَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟» قَالَ: لَا وَاللَّهِ، جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: «وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ». قَالَ: «أَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟» قَالَ: لَا وَاللَّهِ، جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: «وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ». قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ». فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.

"Apakah kamu suka (perbuatan zina itu) terjadi pada ibumu?"
Pemuda itu menjawab: "Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu."
Beliau bersabda: "Begitu juga orang lain, mereka tidak suka hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka."
Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu suka jika hal itu terjadi pada anak perempuanmu?"
Pemuda itu menjawab: "Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu."
Beliau bersabda: "Begitu juga orang lain, mereka tidak suka hal itu terjadi pada anak-anak perempuan mereka."
Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu suka jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?"
Pemuda itu menjawab: "Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu."
Beliau bersabda: "Begitu juga orang lain, mereka tidak suka hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka."
Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu suka jika hal itu terjadi pada bibimu (dari jalur ayah)?"
Pemuda itu menjawab: "Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu."
Beliau bersabda: "Begitu juga orang lain, mereka tidak suka hal itu terjadi pada bibi-bibi mereka."
Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu suka jika hal itu terjadi pada bibimu (dari jalur ibu)?"
Pemuda itu menjawab: "Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu."
Beliau bersabda: "Begitu juga orang lain, mereka tidak suka hal itu terjadi pada bibi-bibi mereka."
Kemudian Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya pada dada pemuda tersebut dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”
Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi menoleh (terpikir) kepada perkara zina sedikit pun. (HR. Imam Ahmad, No. 22211)

Beberapa Pelajaran Penting dari Hadis Ini:

1. Kemuliaan Menahan Diri di Masa Muda

    Masa muda adalah masa ketika gejolak nafsu berada pada titik terkuatnya. Oleh karena itu, seorang pemuda yang mampu bertahan dan mengisi masa pertumbuhannya dengan ketaatan kepada Allah adalah pemuda yang hebat dan luar biasa, serta baginya naungan perlindungan Allah kelak pada hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, di antaranya adalah seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah... dan seorang pemuda yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’.” (HR. Bukhari, No. 1423)

    Seorang pemuda yang mampu bertahan di tengah terjangan fitnah yang luar biasa adalah sosok yang langka. Ia tetap menjaga ibadahnya di saat kebanyakan anak muda bebas mengumbar maksiat. Ia menjaga pandangannya di saat yang lain bebas melihat tanpa batasan. Allah ﷻ menjanjikan surga bagi mereka yang mampu menundukkan hawa nafsunya:

    وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

    "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Nazi‘at: 40–41)"

    2. Metode Dakwah yang Lembut

      Rasulullah ﷺ tidak langsung memarahi atau memukul pemuda tersebut, melainkan mengajaknya berdialog secara logis demi menyentuh nuraninya. Pendekatan serupa juga nampak dalam kisah seorang Arab Badui yang kencing di salah satu sudut masjid. Para sahabat yang hadir saat itu sangat geram dan hendak menghentikannya, namun Rasulullah ﷺ melarang mereka dan membiarkan Arab Badui tersebut menyelesaikan hajatnya. Setelah selesai, Rasulullah ﷺ memanggilnya dan menasihatinya dengan lembut:

      إِنَّ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِهَذَا، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

      “Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak layak untuk (perbuatan) ini, melainkan ia hanya untuk berzikir, shalat, dan membaca Al-Qur'an.” (HR. Muslim, No. 285)

      3. Empati Sosial

        Hadis ini mengajarkan bahwa apa yang kita rasakan ketika dihargai, dihormati, atau sebaliknya ketika dizalimi dan diperlakukan buruk, hal itulah yang juga dirasakan oleh orang lain. Sebagaimana kaidah menyebutkan:

        الجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ العَمَلِ

        “Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”

        Melalui kisah ini, Rasulullah ﷺ hendak menanamkan kesadaran kepada pemuda tersebut bahwa perasaan keluarga wanita yang hendak ia zinahi akan sama persis dengan perasaannya jika hal itu terjadi pada anggota keluarga perempuannya sendiri—baik itu ibu, saudari, anak perempuan, maupun bibinya dari pihak ayah dan ibu. Jika ia tidak menyukai hal itu terjadi pada keluarganya, maka ia pun tidak boleh melakukannya pada keluarga orang lain.

        4. Kekuatan Doa

          Teruntuk para guru dan pembina, dalam setiap kelompok binaan yang kita tangani, akan selalu ada dinamika: anggota yang terkadang sulit menghafal atau banyak melakukan pelanggaran. Terkadang segala bentuk ikhtiar telah ditempuh namun belum membuahkan hasil yang maksimal. Hidayah taufik sepenuhnya berada di tangan Allah ﷻ. Manusia hanya memiliki andil untuk menyampaikan dan mengarahkan, sementara hasilnya mutlak milik Allah. Kendati demikian, hal tersebut tidak menjadi alasan bagi kita untuk berhenti menyelipkan nama-nama mereka dalam doa-doa terbaik kita. Semoga dengan doa itu, mereka diberikan hidayah oleh Allah ﷻ, baik hari ini maupun di kemudian hari. Wallahu A'lam.

          Ahmad Nasing Sido

          Syukran wa jazakumullahu khairan.

          Leave a Reply

          Your email address will not be published. Required fields are marked *