Kita hidup di zaman ketika banyak hal di dunia bergerak begitu cepat. Gunung meletus, tsunami datang, banjir terjadi, gempa mengguncang, dan berbagai peristiwa lainnya silih berganti menghiasi pemberitaan. Pada saat yang sama, perhatian manusia juga semakin banyak tertuju kepada persoalan dunia: politik, jabatan, harta, pekerjaan, popularitas, dan berbagai urusan kehidupan lainnya.
Hari ini, misalnya, kita begitu mudah menemukan orang yang sibuk memikirkan masa depan ekonominya. Ada yang bekerja keras demi keluarganya, ada yang mengejar jabatan, ada yang mengumpulkan harta, dan ada pula yang sejak pagi hingga malam memikirkan bagaimana kehidupannya menjadi lebih baik.
Semua itu tentu bukan sesuatu yang salah. Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia. Kita justru diperintahkan untuk berusaha, bekerja, dan mencari rezeki yang halal. Yang perlu kita renungkan adalah: di mana posisi dunia dalam hati kita?
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat ini bukan berarti dunia tidak boleh kita nikmati. Dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai ia menguasai hati kita. Sebab, dunia memang indah, harta terasa menyenangkan, jabatan memberikan kehormatan, rumah yang bagus memberikan kenyamanan, kendaraan yang baik memberikan kemudahan. Semua itu adalah bagian dari kenikmatan yang Allah berikan.
Tetapi semuanya sementara. Hari ini kita memilikinya, belum tentu besok masih menjadi milik kita. Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa ada kehidupan yang lebih panjang setelahnya.
Ada ungkapan yang sering disampaikan para ulama bahwa dunia itu seperti bayangan. Ketika dikejar, ia akan semakin menjauh. Namun ketika seseorang tidak menjadikannya sebagai tujuan utama, dunia justru dapat mengikuti seseorang dalam kadar yang telah Allah tetapkan. Maka, jangan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Jadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat.
Lihatlah para sahabat Rasulullah ﷺ. Di antara mereka ada sahabat yang memiliki harta yang sangat banyak, seperti ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf رضي الله عنه. Mereka bukan orang-orang yang meninggalkan dunia. Mereka bekerja, berdagang, dan memiliki kekayaan.
Namun, dunia tidak menguasai hati mereka. Harta berada di tangan mereka, tetapi hati mereka tetap terikat kepada Allah. Inilah yang perlu kita pelajari. Bukan persoalan apakah kita memiliki banyak atau sedikit harta. Yang lebih penting adalah bagaimana hati kita memperlakukan harta tersebut.

Seseorang boleh menjadi kaya, tetapi jangan sampai kekayaannya membuatnya lupa kepada Allah. Seseorang boleh memiliki jabatan, tetapi jangan sampai jabatannya membuatnya sombong. Seseorang boleh memiliki rumah yang indah, kendaraan yang bagus, dan kehidupan yang nyaman, tetapi jangan sampai semua itu membuatnya lupa bahwa suatu hari ia akan meninggalkan semuanya.
Allah سبحانه وتعالى mengingatkan:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takāṡur: 1–2)
Betapa banyak manusia yang menghabiskan hidupnya untuk mengejar sesuatu yang pada akhirnya harus ia tinggalkan.
Lalu, apakah kita tidak boleh memiliki uang? Tentu boleh. Apakah kita tidak boleh memiliki kehidupan yang nyaman? Tentu boleh. Bahkan kita boleh berdoa agar Allah memberikan rezeki yang luas, kehidupan yang baik, dan kecukupan bagi diri dan keluarga kita. Tetapi jangan lupa: yang kita minta kepada Allah bukan hanya dunia, melainkan kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.
Maka, mari kita belajar menempatkan dunia pada tempat yang semestinya. Dunia di tangan, akhirat di hati. Bekerjalah, tetapi jangan tinggalkan ibadah. Carilah rezeki, tetapi jangan lupakan Allah. Kejarlah cita-cita, tetapi jangan korbankan akhirat. Bangunlah masa depan, tetapi jangan lupa mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

Sebab pada akhirnya, bukan berapa banyak dunia yang berhasil kita kumpulkan yang akan menentukan keselamatan kita, melainkan seberapa baik kita menggunakan dunia yang Allah titipkan untuk mendapatkan keridaan-Nya.
Semoga Allah memberikan kepada kita kehidupan dunia yang baik, rezeki yang halal dan berkah, serta kehidupan akhirat yang lebih baik.
اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Wallāhu a‘lam bish-ṣawāb.
(Abdillah Al-Faruq, A. M. Nur Atma Amir, M.E.)

Maasyaa Alloh. Barokallohu fiikum