Imam Ibnu Jauzi -rahimahullah- menceritakan dalam kitabnya Bahr al-Dumu', kisah seorang ahli ibadah dan zuhud, namun hancur karena wanita. Beliau berkata: sebagian orang-orang mulia bercerita:
"Aku pernah duduk di samping Hasan al-Basri (semoga Allah meridhainya). Lalu lewatlah rombongan orang yang menyeret mayat seorang lelaki. Ketika Hasan al-Basri melihatnya, beliau pingsan. Setelah sadar, aku bertanya kepadanya tentang hal itu.
Beliau menjawab: “Lelaki ini dahulunya termasuk seorang ahli ibadah, ahli zuhud, dan pemuka para orang-orang zuhud.” Aku berkata: “Wahai Abu Sa'id, beritahukanlah kepada kami tentang kisahnya.”
Beliau berkata: “Suatu hari, syekh ini keluar dari rumahnya hendak shalat di masjid. Di perjalanan, ia melihat seorang gadis Nasrani, ia terpukau dengan kecantikannya, sehinga ia terfitnah olehnya. Gadis itu menolaknya dan berkata: “Aku tidak akan menikahimu sampai engkau masuk ke dalam agamaku.”
Ketika waktu berlalu dan ujian semakin berat, syahwat pun menguasainya. Ia pun menuruti permintaan itu dan keluar dari agama yang lurus.
Setelah ia menjadi Nasrani dan terjadi apa yang terjadi, wanita itu hendak meninggalkannya dan berkata: “Wahai Fulan, tidak ada kebaikan padamu! Engkau meninggalkan agamamu yang telah engkau peluk seumur hidup hanya demi syahwat sesaat yang tidak seberapa. Namun, kini aku yang memeluk Islam, meninggalkan Nasrani demi mencari kenikmatan abadi yang tak akan sirna di sisi yang Maha Esa lagi Tempat Bergantung.” Kemudian wanita itu membaca: 'Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.' (QS. Al-Ikhlas: 1-4)
Orang-orang heran dengan keadaannya dan bertanya: “Apakah engkau telah menghafal surah ini sebelumnya?” Ia menjawab: “Demi Allah, tidak pernah. Namun ketika lelaki ini terus-menerus merayuku, aku bermimpi melihat neraka dan aku sangat ketakutan. Lalu ada yang berkata kepadaku: "Jangan takut dan jangan bersedih, Allah telah menjadikan lelaki ini sebagai tebusanmu dari neraka.”
Kemudian ia memegang tanganku dan memasukkanku ke surga. Di sana aku menemukan satu baris tulisan: ”Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab.” (QS. Ar-Ra'd: 39). Lalu ia membacakan Surah Al-Ikhlas kepadaku, maka aku mengulang-ulanginya hingga aku menghafalnya.”
Hasan al-Basri berkata: “Maka wanita itu masuk Islam, sedangkan syekh tersebut terbunuh atas murtadnya menjadi Nasrani. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”[1]
Manfaat dan Pelajaran Ringkas:
Pentingnya Menjaga Pandangan dan Hati: Kemaksiatan dan fitnah syahwat bisa menghancurkan amal kebaikan yang telah dipupuk bertahun-tahun. Hal ini banyak terjadi di sekitar kita, sebagian orang yang kita anggap soleh bertahun-tahun, gara gara satu pandangan yang ia lepaskan, mereka terjatuh ke dalam zina. Naudzubillah. Maka dengannya, Allah memerintahkan seorang hamba untuk tidak mendekati zina, dan ketika Allah mengharamkan sesuatu maka Allah akan mengharamkan segala perantara yang membawa kesana. Termasuk melepaskan pandangan, pacaran, chattingan dengan lawan jenis, dan berduaan dan yang lainnya.
Istiqamah hingga Akhir (Husnul Khatimah): Tingkat ibadah dan status sosial seseorang tidak menjamin akhir hayatnya jika ia melalaikan perlindungan dari Allah.
Hidayah Taufiq adalah Hak Mutlak Allah: Allah berkuasa memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki, bahkan kepada seseorang yang berada di lingkungan yang tidak beriman. Manusia berusaha untuk memberikan petunjuk dengan berdakwah, namun hasil akhirnya berada pada keputusan Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat ingin pamannya Abu Thalib masuk Islam yang selama ini menjadi penopang dakwahnya, sehingga beliau masih terus meminta hingga di penghujung hidupnya namun keputusan akhirnya di tangan Allah Ta’ala. Semoga setiap kita senantiasa berada di atas hidayah hingga akhir kehidupan, karena yang menjadi penentu adalah hasil akhirnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda ”Amalan tergantung pada akhirnya” (HR. Bukhari).
Ada orang yang hampir seluruh hidupnya dia gunakan untuk taat, namun di saat saat penentuan, ia mencoba segelintir nikmatnya maksiat, lalu ia lupa kembali, padahal waktu pulang sudah tiba. Sebaliknya, ada orang yang nampak layaknya ahli maksiat, namun di akhir-akhir hidupnya, ia terbangun dari kelalaian lalu bertaubat dan meninggal di atas hidayah.
Bahaya Menuruti Hawa Nafsu: Mengorbankan keimanan demi kenikmatan duniawi yang sementara adalah kerugian yang amat besar.
Fitnah wanita adalah fitnah terberat bagi laki-laki. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ما تركت بعدي فتنة أشد على الرجال من النساء
"Aku tidak meninggalkan fitnah bagi laki-laki yang lebih berat dari fitnah perempuan.” (Muttafaq Alaihi)
Semakin berat cobaan seseorang, maka pahalanya akan lebih besar jika ia bisa bertahan. Begitu pula dengan seorang laki-laki yang bisa menahan diri dari fitnah wanita. Balasannya adalah surga, sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. An-Nazi’at ayat 40 – 41: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”
Maka jangan pernah merasa aman dari fitnah dan maksiat, sekuat apapun imanmu, dan sebanyak apapun ibadahmu; karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi ketika engkau berhadapan dengan fitnah. Sudah sangat banyak orang-orang hebat dalam pandangan kita, seperti ustaz, alim ulama yang terjatuh dalam fitnah wanita, padahal awalnya mereka merasa kuat dan aman dari fitnah, namun pada akhirnya mereka jatuh dalam maksiat tersebut.
Semoga bermanfaat, syukran wajazakumullahu khairan.
Ahmad Nasing Sido
[1] Ibnu Jauzi, Bahr al-Dumu’, Cet. 1, 2004 Dar al Fajr li al-Turats, hal. 76
