Hal-hal Yang Tidak Diperbolehkan Bagi Orang Junub

Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang junub, sehingga dengannya ia dianjurkan untuk segera mandi dan menghilangkan hadas pada dirinya dengan melakukan mandi junub. Meskipun ia dibolehkan untuk mengakhirkannya, seperti yang pernah dilakukan oleh Abu Hurairah radiyallahu anhu:

أن  رسول الله لقيه في بعض طرق المدينة وهو جنب. قال: فانخنست منه، فذهبت فاغتسلت ثم جئت فقال:أين كنت يا أبا هريرة؟ قال : كنت جنبا فكرهت أن أجالسك وأنا على غير طهارة. فقال: سبحان الله إن المؤمن لا ينجس

“Rasulullah ﷺ menemui Abu Hurairah di beberapa jalan di kota Madinah sementara beliau sedang junub. Beliau berkata, ‘Lalu aku pergi sembunyi-sembunyi kemudian mandi. Setelah mandi saya menemui Rasulullah ﷺ dan beliau berkata, ‘Dari mana engkau wahai Abu Hurairah? Beliau berkata, ‘Tadi saya junub wahai Rasulullah, dan saya tidak suka duduk bersamamu sementara saya dalam keadaan junub. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Subhanallah! Sesungguhnya seorang mukmin tidak najis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis ini Abu Hurairah keluar ke jalan dan belum melaksanakan mandi, namun Rasulullah ﷺ tidak menegurnya. Itu menunjukkan bahwa hal itu dibolehkan, karena tidak mungkin Rasulullah ﷺ diam dari kemungkaran.

Namun yang afdal adalah menyegerakan, karena banyak ibadah yang tidak bisa dilakukan ketika dalam keadaan junub.

Berikut hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang junub:

  • Menyentuh Mushaf

Orang junub tidak dibolehkan untuk menyentuh mushaf, karena dia sementara dalam keadaan tidak suci, dan Al-Qur'an tidak boleh disentuh kecuali oleh orang yang suci. Allah berfirman :

لا يمسه إلا المطهرون

“Dan hendaklah tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.” (QS. Al-Waqi'ah: 79)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda dalam surat yang beliau tuliskan kepada sahabat Amr bin Hazm yang di dalamnya:

ألا يمس القرأن إلا طاهر

“Agar seseorang tidak menyentuh Al-Qur'an kecuali dalam keadaan suci.” (Imam Malik, Hakim, shahih)

  • Membaca Al-Qur’an, sampai selesai mandi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ولا يحجزه عن فراءة القران شيئ سوى الجنابة

“Dan tidak ada yang menghalanginya dari membaca Al-Qur'an kecuali janabah.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan An-Nasa'i)

Dari Abu Abdirrahman bahwa Ali bin Abi Thalib ditanya tentang orang yang junub membaca Al-Qur'an, maka beliau menjawab:

لا, ولو حرف[1]

“Tidak, meskipun hanya satu huruf.”

Namun jika ia membaca do'a dari al-Qur'an dengan niat untuk do'a dan bukan tilawah al-Qur'an, maka dibolehkan.

  • Menetap Dalam Mesjid.

Tidak diperkenankan untuk menetap dalam mesjid bagi orang junub, kecuali jika hanya sekedar lewat, atau mengambil sesuatu yang ia butuhkan dalam mesjid.

Allah ﷻ berfirman:

ولا جنبا إلا عابري سبيل حتى تغتسلوا

“Dan jangan (pula menghampiri mesjid) dalam keadaan junub, kecuali jika sekedar melewatinya saja hingga kamu mandi.” (QS. An-Nisa': 43)

Namun jika ia telah berwudu, maka dibolehkan untuk menetap dalam mesjid, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah:

​وَلَيْسَ لِلْجُنُبِ أَنْ يَلْبَثَ فِي الْمَسْجِدِ، لَكِنْ إِذَا تَوَضَّأَ جَازَ لَهُ اللُّبْثُ فِيهِ عِنْدَ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِ، وَاسْتُدِلَّ بِمَا ذَكَرَهُ بِإِسْنَادِهِ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ: «أَنَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَانُوا يَتَوَضَّئُونَ وَهُمْ جُنُبٌ، ثُمَّ يَجْلِسُونَ فِي الْمَسْجِدِ وَيَتَحَدَّثُونَ»[2]

​"Dan tidak boleh bagi orang yang junub untuk berdiam diri (tinggal) di dalam masjid. Akan tetapi, apabila ia telah berwudu, maka boleh baginya berdiam diri di dalamnya menurut Imam Ahmad dan ulama lainnya. Hal ini didasarkan pada dalil yang beliau sebutkan dengan sanadnya dari Hisham bin Sa'd: 'Bahwasanya para sahabat Rasulullah ﷺ   dahulu berwudu saat mereka sedang junub, kemudian mereka duduk di dalam masjid dan saling berbincang-bincang.'"

  • Semua Perkara yang Dilarang Ketika Hadas Kecil.

Hal-hal yang tidak dibolehkan saat berhadas kecil juga tidak dibolehkan dilakukan saat berhadas besar, seperti shalat dan tawaf di Ka’bah.

Bagaimana dengan zikir saat junub, seperti beristighfar atau bertasbih, bersalawat atau yang semisalnya?

Hukumnya diperbolehkan sebagaimana persaksian Aisyah radiyallahu anha:

كان رسول الله يذكر الله في كل أحيانه

 “Rasulullahﷺ  senantiasa berzikir kepada Allah ﷻ dalam setiap waktunya.”

Dan sesuai dengan ijmak kaum muslimin, sebagaimana yang dinukil oleh Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh Muhadzzab:

أجمع المسلمون على جوازالتسبيح والتهليل والتكبير والتحميد والصلاة على رسول الله وغير ذلك من الأذكاروما سوى القران للجنب والحائض[3]

“Kaum muslimin bersepakat tentang bolehnya bertasbih, bertahlil, bertakbir, bertahmid dan berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan selain itu berupa zikir-zikir  selain Al-Qur’an bagi orang junub dan haid...”

Ahmad Nasing Sido

Syukron wajazakumullahu khairan.


[1] Syarh Sunan Ibnu Majah, karya ‘Alauddin Al-Maghalthai, jilid 2 hal. 392

[2] Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah, Majmu' Fatawa, jilid 21, hal 344

[3]  al-Muhadzzab, karya Imam Nawawi, Jilid 2 hal. 164

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *