Pada zaman sekarang, hidup kita dipenuhi berbagai keinginan. Kita ingin rumah yang besar, kendaraan yang bagus, HP terbaru, jaringan internet yang cepat, pekerjaan yang mapan, penghasilan yang tinggi, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya.
Namun, pernahkah kita bertanya: ketika keinginan kepada dunia semakin besar, apakah keinginan kita untuk beribadah juga semakin besar?
MAUNYA BESAR, tetapi ibadahnya kecil.
Kita ingin rezeki yang luas, tetapi sedikit bersyukur.
Kita ingin kehidupan yang nyaman, tetapi masih sering menunda shalat.
Kita ingin banyak mendapatkan kenikmatan, tetapi sedikit memikirkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.
Padahal Allah ﷻ berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya:
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Islam tidak melarang kita memiliki dunia. Kita boleh bekerja, berusaha, memiliki harta, membangun rumah, membeli kendaraan, bahkan menikmati berbagai kenikmatan yang halal. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai dunia menjadi tujuan utama hingga melalaikan akhirat.
Allah ﷻ juga mengingatkan:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
Artinya:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takātsur: 1–2)
Karena itu, persoalannya bukan seberapa banyak dunia yang kita miliki, tetapi seberapa baik kita menempatkan dunia dalam kehidupan kita.
Kita boleh mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai melupakan shalat.
Kita boleh mencari rezeki, tetapi jangan meninggalkan Allah.
Kita boleh memiliki cita-cita besar, tetapi jangan sampai cita-cita dunia membuat kita lupa kepada tujuan penciptaan.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)
Sebagian kita banyak meminta kepada Allah: meminta rezeki, kesehatan, kesuksesan, kemudahan, dan berbagai keinginan lainnya. Tetapi bagaimana dengan ibadah kita?
Apakah shalat sudah kita jaga?
Apakah Al-Qur’an masih kita baca?
Apakah kita masih berdoa?
Apakah kita masih menyempatkan diri mengingat Allah di tengah kesibukan?
Ataukah kita hanya rajin meminta ketika membutuhkan sesuatu?
Jangan sampai keinginan kita terhadap dunia SEMAKIN BESAR, sementara ibadah kita justru semakin kecil.
Bekerjalah, tetapi jangan tinggalkan ibadah.
Belajarlah, tetapi jangan melupakan Allah.
Kejar cita-cita, tetapi jangan korbankan shalat.
Nikmati dunia, tetapi jangan biarkan dunia menguasai hati.
Ketika meminta sesuatu kepada Allah, jangan hanya memperbesar daftar keinginan. Perbesar pula ketaatan kita kepada-Nya.
Mungkin yang perlu kita upgrade bukan HP, kendaraan, rumah, atau pencapaian kita, tetapi iman, amal, dan ibadah kita.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah:
“Berapa banyak yang berhasil kita dapatkan?”
tetapi: “Seberapa banyak yang telah kita siapkan untuk menghadap Allah?”
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
(Abdillah Al-Faruq, A. M. Nur Atma Amir, M.E.)
