Jagalah Allah, Niscaya Allah Menjagamu

Setiap kita berharap mendapatkan penjagaan dari yang Maha Kuat. Karena Dia-lah yang Maha Kuasa yang tidak ada yang mampu melawan kehendak-Nya. Setiap kita mengaharapkan penjagaan dari-Nya, terhadap anggota tubuh, keluarga, harta dan anak keturunan kita, dan secara khusus tentunya penjagaannya terhadap hati kita agar tidak melenceng dari jalan yang Allah ridai.

Abdullah bin Abbas pernah menceritakan kebersamaan beliau dengan Rasulullah ﷺ saat di bonceng di atas keledai. Beliau berkata:

كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ: «يَا غُلَامُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ،...  [رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ]

​Suatu hari aku berada di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: "Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu...." [Diriwayatkan oleh Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadis hasan shahih]

Hadis ini mencakup banyak nasehat yang agung, dan kaedah-kaedah penting dalam agama. Sebagian ulama berkata:

تدبرت هذا الحديث فأدهشني وكدت أطيش، فوا أسفا من الجهل بهذا الحديث وقلة التفهم لمعناه.[1]

“Saya mentadabburi hadis ini , lalu ia membuatku kagum dan bahkan saya hampir kehilangan akal. Aduhai sungguh sangat disayangkan bagi dia yang luput pengetahuannya dari hadis ini dan kurangnya pemahamannya tentang maknanya.”

Dalam hadis ini ada beberapa manfaat yang disebutkan oleh para ulama, di antaranya:

  1. Bolehnya berboncengan
    Berboncengan boleh dilakukan selama tidak memberikan beban yang lebih kepada kendaraan, karena jika memberikan beban yang lebih dari kesanggupannya, maka itu dianggap menzalimi. Termasuk motor, mobil, atau hewan hewan peliharaan, tidak boleh memberikan beban yang lebih karena Allah telah menuliskan kebaikan untuk segala sesuatu.
    Sebagaimana Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menuliskan kebaikan untuk segala sesuatu...” (HR. Muslim, 1955)
  2. Ketawaduan Rasulullah ﷺ
    Beliau adalah pimpinan tertinggi namun beliau tidak enggan untuk mengendarai seekor keledai. Syaikh Manshur al-Shaqa'ub -hafizahullah- berkata: “Kita meyaksikan sebagaian orang hari ini enggan untuk mengendarai mobil yang biasa, sementara nabi kita Muhammad ﷺ sebaik-baik manusia, dan nasab beliau nasab terbaik, bahkan beliau mampu untuk mendapatkan dunia, bahkan diberikan pilihan antara menjadi seorang Rasul sekaligus menjadi raja, atau sekedar menjadi Rasul dan hamba, lalu ia memilih untuk menjadi seorang Rasul dan seorang hamba.” [2]
  3. Memberikan nasehat kepada anak kecil atau pemuda
    Nabi ﷺ  memiliki perhatian dalam memberikan nasehat kepada para pemuda. Termasuk dalam hadis ini, beliau memberikan nasehat berharga kepada Abdullah bin Abbas, dan pada saat itu beliau masih kecil karena saat Rasulullah meninggal dunia, beliau masih berumur sekitar 10 tahun. Maka kita pun sepatutnya memiliki perhatian kepada hal ini, bahkan sekalipun ia belum mau menyimak dengan baik, karena minimal mereka mendengarkan kalimat-kalimat yang baik yang akan tersimpan pada memorinya, yang kelak akan dia ucapkan ketika sudah mampu untuk berbicara dan menyampaikan. Karena apa yang sering terdengar oleh telinga, itulah pula yang akan sering terucap oleh lidah.
  4. Jagalah Allah
    Maksudnya adalah jaga batasan-batasan-Nya, jaga hak-hak dan perintah-perintah-Nya dengan melaksanakannya, menjauhi larangan-larangan-Nya, serta patuh pada batas-batas ketentuan-Nya. Tidak melewati batas perintah-Nya dan tidak menyentuh batas yang diharamkan-Nya. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka ia termasuk orang-orang yang menjaga batasan-batasan Allah (al-hafizhin li hududillah) yang dipuji oleh Allah di dalam Kitab-Nya.
    Allah Azza wa Jalla berfirman: "Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih sekalipun tidak melihat-Nya dan dia datang dengan hati yang bertobat." (QS. Qaf: 32–33).
    Kata al-Hafizh (الحفيظ) pada ayat ini ditafsirkan sebagai orang yang memelihara/menjaga perintah-perintah Allah, serta orang yang senantiasa mengingat dosa-dosanya agar ia dapat bertaubat darinya.[3]
  5. Allah akan menjagamu
    Buah dari penjagaan seorang hamba terhadap aturan-aturan Allah, adalah penjagaan Allah untuknya. Dan penjagaan Allah mencakup dua hal:
    - Menjaga maslahat dunianya, Allah akan menjaga anggota badannya, hartanya, anak-anak keturunannya, dan keluarganya. Ibnu al-Munkadir  berkata:
    “​Sesungguhnya Allah benar-benar akan memperbaiki (keadaan) anak seorang hamba dan cucunya karena kesalehan hamba tersebut, serta menjaga (melindungi) rumahnya dan rumah-rumah di sekitarnya selama ia berada di tengah-tengah mereka.”[4]
    Imamat-Thabsaat telah berumur  90 tahun, beliau mengendarai perahu lalu ketika perahu sudah hampir tiba di pinggir sungai, ia kemudian melompat. Dan hal tersebut tidak dilakukan oleh orang seumuran beliau. Ketika orang-orang bertanya, kenapa engkau masih kuat dan masih memiliki anggota tubuh yang kuat meskipun sudah berusia 90  tahun, beliau menjawab:
    “Anggota-anggota tubuh ini kami menjaganya ketika masih muda, lalu Allah menjaganya saat kami sudah tua.” [5]
    - Penjagaan Allah terhadap agamanya, Allah akan menjaga dirinya dari kesesatan, bid'ah, menjaga anggota tubuhnya dari apa yang diharamkan oleh Allah ﷻ.
  6. Jaga Allah maka engkau akan mendapati Allah di hadapanmu
    Maksudnya adalah engkau akan mendapati Allah sebagai pengarah di hadapanmu dalam segala urusan, dan dalam segala keadaan. Allah akan senantiasa menolongmu, memudahkan urusanmu, dan menguatkanmu dalam segala bentuk kelemahanmu. Inilah implementasi dari firman Allah dalam hadis Qudsi:
    "Jika Aku sudah mencintainya, maka aku akan menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, tangan yang ia pakai untuk membentangkan dan kaki yang ia pakai untuk melangkah.” (HR. Bukhari)
    Syaikh Manshur al-Shaqa'ub berkata: “Maka percaya dan yakinlah bahwa Allah tidak akan menghinakan seorang mukmin, namun Allah akan senantiasa menjaga dan memeliharanya. Sekalipun ia mendapatkan musibah, ia harus tahu bahwa itulah yang terbaik untuknya. Karena Allah tidak menakdirkan kecuali kebaikan.”[6]

Jadi, jika engkau mau mendapatkan feedback berupa penjagaan Allah terhadap dirimu, keluarga dan agamamu, maka jaga aturan-aturan Allah. Dan jika engkau mau Allah senantiasa hadir di hadapanmu menjadi pengarah dalam segala urusanmu, maka jagalah aturan-aturannya. Jika engkau mau Allah senantiasa hadir saat engkau susah, maka kenalilah Allah saat engkau lapang dan bahagia.  Wallahu A'lam.

Ahmad Nasing Sido


[1] Ibnu Rajab al-Hambali, Jami’ Ulum walhikam, 462\1

[2] Syaikh Manshur al-Shaqa'ub, al-Hulal al-Bahiyyah Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, hal. 154.

[3] Ibnu Rajab al-Hambali, Jami' Ulum Walhikam, 1/462

[4] Abdullah bin Mubarak, az-Zuhd wa al-Raqa’iq, 1/112.

[5] Lihat Siyar a'lam an-Nubala', karya Imam adz-Zahahabi, 17/667.

[6] Syaikh Manshur al-Shaqa'ub, al-Hulal al-Bahiyyah Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, hal. 159.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *