MENDAKI -Belajar Berjuang dan Tetap Rendah Hati-

Bagi sebagian orang, mendaki mungkin terlihat seperti perjalanan melelahkan: berjalan menanjak, melewati jalan berbatu, lalu tiba di puncak. Namun, perjalanan itu menyimpan pelajaran yang dapat kita bawa pulang. Kita belajar mempersiapkan diri, bekerja sama, dan mengenali kemampuan sendiri ketika berhadapan dengan alam.

Sebelum berangkat, pendaki perlu menyiapkan fisik dan perlengkapan. Di perjalanan, keberanian harus disertai keterampilan serta kepedulian kepada teman. Puncak tidak dicapai hanya dengan keinginan. Ada langkah yang harus ditempuh, ada lelah yang perlu dikelola, dan ada keputusan yang harus dipikirkan bersama.

Jalan menuju puncak mengingatkan kita pada perjuangan meraih cita-cita. Ketika ingin berhasil, kita membutuhkan persiapan dan kesabaran untuk menjalani prosesnya. Keinginan saja belum cukup jika tidak diikuti usaha. Allah berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (Q.S. al-Najm [53]: 39).

Ayat ini menegaskan nilai usaha manusia dan pertanggungjawaban atas amalnya. Dalam mengejar cita-cita, kita pun perlu bekerja sungguh-sungguh, sambil menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah. Usaha yang baik tidak selalu segera menghasilkan apa yang kita harapkan, tetapi tetap menjadi bagian penting dari perjalanan.

Ketika lelah datang, jangan hanya melihat beratnya jalan yang sedang dilalui. Ingat kembali tujuan yang ingin dicapai dan langkah yang sudah ditempuh. Beristirahat atau menyesuaikan rencana dapat membantu kita melanjutkan perjalanan dengan lebih baik. Dalam pendakian maupun kehidupan, ketekunan perlu berjalan bersama pertimbangan yang bijak.

Setiap gunung memiliki jalan dan tantangannya sendiri. Begitu pula manusia: kemampuan, keadaan, dan jalan menuju keberhasilannya tidak selalu sama. Karena itu, kita tidak perlu mengukur seluruh perjuangan dengan pencapaian orang lain. Pelajaran yang diperoleh selama perjalanan juga layak dihargai.

Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan untuk bersungguh-sungguh sekaligus memohon pertolongan Allah:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ

“Bersungguh-sungguhlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan menyerah.” (Petikan hadis riwayat Muslim, no. 2664).

Setelah mencapai puncak, pelajaran lain menanti: kerendahan hati. Dari ketinggian, kita melihat betapa luas alam dan betapa kecil diri kita di dalamnya. Keberhasilan seharusnya membuat kita lebih bersyukur, bukan merasa lebih berharga daripada orang lain. Al-Qur’an mengingatkan:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا

Makna petikan ayat: “Janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.” (Q.S. Luqmān [31]: 18).

Hamparan pegunungan seperti Latimojong mengingatkan kita bahwa pandangan dan kemampuan manusia memiliki batas. Ketika berada di bawah, jangan buru-buru menganggap diri gagal. Ketika berada di atas, jangan merasa paling hebat. Kedudukan dapat berubah, sedangkan sikap rendah hati tetap perlu dijaga.

Bulu Saukang pun mengajarkan bahwa keindahan tidak hanya ditemukan di gunung yang menjulang tinggi. Sebuah perjalanan dapat berkesan karena pemandangannya, kebersamaan di sepanjang jalan, atau pelajaran yang kita dapatkan. Kita tidak perlu meremehkan sesuatu hanya karena tampak kecil sebelum mengenalnya lebih dekat.

Mari menikmati pendakian dengan menghargai alam dan teman seperjalanan. Semoga setiap langkah membantu kita lebih sabar dalam berusaha dan lebih rendah hati ketika berhasil. Puncak yang kita lihat dari jauh layak diperjuangkan; begitu pula cita-cita, selama kita menempuhnya dengan cara yang baik.

Farid Al-Munawwara dan A. M. Nur Atma Amir, M.E.

Rujukan Dalil

Usaha dan pertanggungjawaban amal. Al-Najm [53]: 39

Kesungguhan dan pertolongan Allah. Muslim no. 2664

Larangan bersikap angkuh. Luqmān [31]: 18

Petikan dalil dan terjemahan ringkasnya disertai rujukan yang dapat dibuka melalui tautan di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *